⚡ MARKET UPDATE: IHSG: 7,330.15 (+0.45%) Mengambil data... Mengambil data... Mengambil data... Mengambil data... Mengambil data... Mengambil data...
Menu Utama

Sebuah Seni Bernama JOMO

Penulis: Notulensi
Juni 22, 2026
Bagikan:

Sebagai cewek Gen-Z yang tiap hari kerudungnya harus rapi dan anti-letoy, belakangan ini aku sering banget merenungkan satu fenomena yang makin ke sini makin terasa nyata di sekitar kita. Bukan soal politik, bukan juga soal sekte bubur diaduk atau enggak diaduk ya. Ini soal bagaimana cara kita menikmati waktu luang di tengah gempuran dunia digital yang makin hari makin cepat perputarannya.


Kamu sadar enggak sih, sekarang tuh susah banget buat benar-benar offline meskipun cuma beberapa jam? Sebagai generasi yang lahir dan besar bareng perkembangan media sosial, aku ngerasa kita kayak punya beban moral buat selalu kelihatan aktif, selalu produktif, atau minimal selalu tahu tren terbaru di TikTok atau X. Kalau ketinggalan sehari aja, rasanya langsung kena sindrom FOMO yang bikin kepikiran semalaman.


Padahal kalau dipikir-pikir lagi, esensi dari liburan atau waktu istirahat itu kan buat mengistirahatkan pikiran, bukan malah memindahkan layar kerja ke layar hiburan yang sama-sama menguras energi. Di sela-sela waktu kuliah atau kerja, aku sering ngeliat teman-teman seumuran yang kalau nongkrong di kafe, alih-alih ngobrol mendalam, memori HP-nya justru habis buat bikin konten estetis demi validasi dunia maya. Aku juga kadang begitu kok, jadi ini self-correction buat kita bersama.


Nah, dari situlah aku mulai tertarik sama konsep yang namanya JOMO alias Joy of Missing Out. Kebalikan dari FOMO, JOMO ini mengajak kita buat justru merasa bahagia ketika kita tertinggal dari tren atau keriuhan yang sebenarnya enggak terlalu berdampak buat hidup kita. Menurutku, topik ini seru banget buat kita obrolin lagi sekarang karena kesehatan mental kita tuh mahal banget harganya.


Bayangin betapa tenangnya kalau kita bisa menghabiskan akhir pekan dengan baca buku fisik di kamar, dengerin musik favorit tanpa perlu di-share ke Instagram Story, atau sekadar jalan-jalan sore tanpa sibuk nyari sudut yang pas buat foto. Rasanya kayak kita berhasil merebut kembali kendali atas waktu dan perhatian kita sendiri yang selama ini sering dicuri sama algoritma.


Bukan berarti kita harus jadi orang kuno yang kuper dan menutup diri dari teknologi ya. Kita tetap butuh internet buat belajar dan bersosialisasi. Tapi, esensinya adalah tahu kapan harus menekan tombol jeda. Mengambil jarak sejenak dari dunia digital itu bukan berarti kita malas atau enggak gaul, melainkan sebuah bentuk sayang sama diri sendiri agar pikiran enggak gampang burnout.


Menurut kamu sendiri gimana? Apakah batasan antara menikmati hidup di dunia nyata dan membagikannya di dunia maya itu sudah makin kabur sekarang? Atau jangan-jangan, kita sebenarnya sudah terlalu lelah tapi bingung bagaimana caranya buat benar-benar berhenti sejenak tanpa merasa bersalah? Yuk, coba bagikan sudut pandang kamu tentang cara terbaik buat menjaga keseimbangan ini di tengah dunia yang jalannya makin cepat.



Nabila Utami

Nabila "Bila" Utami

Mahasiswi Ilmu Komunikasi yang aktif membagikan perspektif anak muda di era digital. Penikmat buku fisik dan penganut gaya hidup JOMO.