Notulensi.Net - Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) secara resmi mengumumkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2026 yang membawa angin segar bagi perekonomian Indonesia.
Berdasarkan pengumuman di Jakarta pada tanggal sebelas Agustus, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia telah menembus angka 69,57 persen, sementara indeks inklusi keuangan meroket hingga mencapai 93,61 persen.
Pencapaian ini dinilai sangat fantastis karena tidak hanya menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya yang berada di angka 66,64 persen untuk literasi dan 92,74 persen untuk inklusi, tetapi juga berhasil secara gemilang melampaui target yang ditetapkan oleh pemerintah.
Secara membanggakan, hasil survei tahun ini telah melewati target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang mematok indeks literasi sebesar 69,35 persen dan inklusi sebesar 93 persen untuk tahun 2029 mendatang.
Pengumuman bersejarah ini disampaikan langsung oleh deretan petinggi lembaga, yaitu Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, dan Kepala BPS Republik Indonesia Amalia Adininggar Widyasanti.
Dalam konferensi pers tersebut, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan pencapaian gemilang ini dengan penuh optimisme.
"Hasil SNLIK Tahun 2026 tersebut sekaligus telah melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk tahun 2029, yaitu indeks literasi keuangan sebesar 69,35 persen dan indeks inklusi keuangan sebesar 93 persen," ungkap Friderica.
Survei yang menjadi landasan utama pembuatan kebijakan ini merupakan tonggak sejarah baru karena untuk pertama kalinya melibatkan kolaborasi tiga lembaga sekaligus, dengan skala yang jauh lebih masif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pendataan lapangan yang dilakukan pada awal tahun ini melibatkan sebanyak 75.000 responden yang tersebar di 38 provinsi dan 514 kabupaten atau kota di seluruh Indonesia.
Angka responden ini melonjak sangat tajam dibandingkan survei pada tahun 2024 dan 2025 yang hanya melibatkan sekitar 10.800 responden. Metode pengumpulan data yang digunakan pun sangat komprehensif, mencakup seluruh sektor jasa keuangan mulai dari perbankan, pasar modal, hingga aset kripto dan keuangan digital.
Dari berbagai sektor layanan tersebut, perbankan konvensional dan penyelenggara program jaminan sosial masih mendominasi tingkat literasi dan inklusi tertinggi di mata masyarakat Indonesia. Sementara itu, sektor keuangan syariah terpantau masih memiliki tantangan besar karena indeks literasinya baru menyentuh angka 43,07 persen dengan inklusi yang masih sangat rendah di angka 13,24 persen.